Selasa, 15 Februari 2011

Agar Jomblo Tetep PD

Status jomblo yang emoh pacaran itu hebat. Tapi sebagian teman merasa tidak percaya diri dengan status itu. Nah, agar jomblo tetep PD laksanakan saja poin-poin berikut ini :
1. Niatkan Karena Allah SWT
Inilah yang menyebabkan kita jadi percaya diri dalam status jomblo, di tengah-tengah muda-mudi yang terjerumus dalam dunia pacaran. Yang lebih utama lagi dengan berbekal niatan seperti ini kita akan memperoleh pahala dari Allah SWT. Sebab kita meninggalkan perbuatan maksiat dalam rangka mendapatkan keridhoan-Nya. Ini berbeda kondisinya dengan orang yang etap dalam status jomblo hanya karena alas an-alasan karena Allah SWT. Rasulullah SAW pernah bersabda,”sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung dengan niat. Dan seseoaang akan mendapatkan balasan sesuai yang dia niatkan…”(Riwayat Al Bukhari dan Muslim).
2. Yakini bahwa aktivitas pacaran adalah maksiat.
Pacaran adalah perbuatan dosa yang mengundang kemurkaan Allah SWT. Karena dialamnya ada serangkaian aktivitas maksiat yang mengantarkan pelakunya pada perbuatan zina. Mulai dari melihat, memegang bersepi-sepi dan seterusnya. Semuanya di larang oleh rosulullah SAW. Yakni perbuatan pacaran adalah mungkar, sehingga kita tertuntut utuk mengubah kemungkaran tadi sekuat kemampuan kita. Baik dengan tangan dan ucapan kita. Minimalnya kita kita benci dengan hati terhadap perbuatan seperti itu.sehingga kita akan selalu PD dengan status jomblo. Kita pun bias dengan tenang mengatakan,”Alhamdulillah, Aku jomblo”
3. Tenang dengan takdir Allah SWT.
Namanya manusia memang selalu tertarik dengan lawan jenisnya. Keinginan untuk menyalurkan ketertarikan kepada lawan jenis adalah sesuatu yang manusiawi. Namun jangan sampai hal tersebut menjadikan kita menempuh jalan yang dilarang oleh Allah SWT. Yaknlah dengan takdir Allah SWT, bahwa masa-masa itu akan datang.
Rasulullah SAW pernah bersabda,
“sesungguhnya setiap diantara kamu dikumpulkan penciptanya dialam rahim ibunya selama empat puluh hari brrupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian di utus malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan di perintahkan dengan empat kalimat; menetapkan rezekinya, ajalnya, celakanya, dan kebahagiaannya…”(Riwayat Al bukhari dan Muslim).
Keimanan pada takdir tersebut, mestinya mendorong kita untuk menempuh dan berusaha dengan cara-cara yang dilegal;kan oleh Allah SWT, bukan malah mencari cara-cara yang tidak dibenarkan oleh syariat.
4. Banyak-banyak melakukan amalan shalih, termasuk puasa.
Gunakan setiap waktu yang diberikan oleh Allah SWT dengan memperbanyak amalan shalih yang sesuai. Misalnya di pagi hari kita memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca dzikir pagi dan petang. Wakt selepas shalat kita manfaatkan untuk berdzikir yang di ajarkan Nabi SAW. Membuat jadwal khusus untuk membaca dan menghafal Al Qur’an. Bangun di malam hari untuk mengerjakan Qiyamul Lail. Membasahi lisaan dengan berdzikir kepada Allah SWT. Berpuasa pada hari-hari yang disunnahkan. Mengikuti kajian-kajian keislaman yang membahas tentang imu. Membayarkan zakat setelah sampai nishabnya dan telah berlalu satu haul. Membantu pekerjaan orang tua dalam ragka birrul walidain. Dan berbagai aktivitas ibadah lain yang bias kita lakukan sepanjang waktuyang diberikan oleh Allah SWT. Kesibukkan dalam kebaikan ini akan memupus keinginan hati terhadap hal-hal yang dimurkai ooleh Allah SWT. Termasuk diantaranya pacaran.
5. Gunakan waktu sehebat mungkin.
Jangan sampai waktu yang ada kta gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita. Watu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik merpakan penyakit berbahaya bagi pemikiran, akal dan badan. Karena jiwa senantyasa bergerak dan beraktiviyas. Bila ia di biarkan sja maka pemikran akan menjadi bebal, akal menjadi kasar dan gerakan jwa akan melemah, rasa was-was dan pemikiran burkpun menguasai hati. Dalam kondisi yang demikian sangat mungkin kta akan terdorong untuk berbuat jahat. Makanya, manfaatkan waktu yang diberikan oleh allah SWT untuk berbagai aktivitas yang bermanfaat, seperti berdagang, beajar, menulis, berolahraga yang membuat badan sehat dan kuat untuk ibadah dan lain senagainya.
6. Jauhi tontonan, bacaan dan ha-hal yang m,endorong untuk berpacaran.
Hati manusia itu lemah. Bila dorongan utuk melakukan maksiat begitu besar maka seseorang akan mudah terpengaruh dalam perbuatan maksiat yang sama. Nah, dorongan itu bias berasal dari tontonan, bacaan, lingkunga pergaulan atau yang lain. Segala doronga tadi mesti di tepis jauh-jauh. Salah satunya dengan menghindari tontona , bacaan, lingkungan dan segaa yang membuat rusak tersebut. Di sisi lain, sepantasnya kita berusaha untuk mencari bacaan, tontonan dan lngkungan yang mendorong kita untuk semakin taat kepada Allah SWT.
Semoga bermanfaat...

Senin, 14 Februari 2011

Kebenaran Janji Allah SWT

QS. AL-A'raaf ayat 96-100

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
98. Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
99. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
100. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka Karena dosa-dosanya; dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Keumuman Makna

Setelah Allah SWT menjelaskan sunnah-Nya terhadap umat-umat terdahulu, yaitu ditimpakannya siksaan dan kesengsaraan terhadap mereka setelah meraka mendustakan dan membangkang ayat-ayat-Nya. Kemudian bila umat-umat tersebut belum juga bertaubat dan terus berjibaku dalam kekufuran dan pembangkangannya, Allah SWT akan melimpahkan berbagai kebaikan untuk mereka berupa harta yang banyak dan kondisi ekonomi yang lebih baik, lalu serta merta Dia membinasakan mereka sehimgga jadilah mereka setelah itu manusia-manusia yang merugi di dunia dan akhirat.
Allah SWT membuka pintu taubat dan pengharapan bagi para hamba-Nya seraya berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri” yakni mereka yang mendustakan (ayat-ayat Allah SWT) seperti orang-orang kafir Mekkah, Thaif dan penduduk kota lainnya. “Beriman” yakni kepada Allah SWT dan Rosul-Nya, (beriman) dengan hari pertemuan, janji, dan ancaman-Nya. “Dan Bertaqwa” yakni kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat syirik, bermaksiat kepada-Nya dan Rosul-Nya; niscaya Allah SWT akn membukakan pintu-pintu langit berlimpahan rahmat dan berkah. Melimpahka bagi mereka perbendaharaan bumi dan menganugrahkan mereka rezeki yang baik akan tetapi penduduk negeri terdahulu telah mendustakan (ayat-ayat Allah SWT) sehingga Dia menimpakan Azab kepada mereka sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat. Penduduk bumi sekarng ini yang mendustakan (ayat-ayat Allah SWT), hanya dua jalan bagi mereka; mengambil pelajaran dari apa yang menimpa penduduk negeri-negeri terdahulu lalu beriman, bertauhid dan berbuat ta’at. Atau tetap di aas kesyirikan dan pendustaan lal ditimpakan atas mereka azab yang dulu pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka, yaitu dimusnahkan secara missal dan disikat habis. Inilah yang di tunjukkan dalam firman-Nya pada ayat 96 diatas, yaitu firman-Nya,”jikalau sekiranya penduduk negeri-negri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Sedangkan pada tiga ayat berikutnya (97,98,99), Allah Ta’ala mengingkari kelalaian penduduk negeri-negeri tersebut dengan mencela kengototan dan keterus-menerusan di atas kebatilan seraya terheran dengan kondisi mereka tersebut. Karena itu Dia berfirman, “maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatanag siksa kami kepada mereka di malam hari diwaktu mereka sedang tidur?” atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada merka di waktu matahari sepenggalahan nak ketika mereka bermain?” yakni apakah penduduk negeri-negeri lalai dan merasa amn saja terhadap datangnya azab kami di waktu Dhuha (matahari sepenggalahan naik) sementara mereka telah asyik mengerjakan amalan yang tidak bermanfaat bagi mereka yang seakan sedang bermain-maindengan permainan anak-anak? ”maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah” yakni mereka terlena karena kami mengulur-ngulur bagi mereka dan memperdayai mereka sehingga merasa amn dari maker Allah?seungguhnya mereka telah merugi sebab orang yang merasa aman-aman saja dari maker Allah hanyalah orang-orang yang merugi.
Sementara firmannya dalam ayat kelima (100), “dan apakah belum jelasbagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan kami kunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” yakni telah butalah orang-orang yang mempusakai bumi setalah penduduknya lenyap dan belum jelas bagi mereka serta belum menyadari bahwa andaikata Kami menghendaki, tentu kami azab merekakarena dosa-dosa mereka sebagaimana Kami telah mengazab orang-orang yang telah mempusakai rumah-rumah mereka karena dosa-dosa mereka.”dan Kami kunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)” dan Kami jadikan di setiap hati mereka sumbatan sehingga mereka tidak menyadari apa yang di katakan kepada mereka tidak memahami apa yang diinginkan terhadap mereka hingga akhirnya mereka binasa sebagaimana ninasanya orang-orang sebelum mereka.

Petunjuk Ayat

Di antara petunjuk ayat-ayat di atas adalah :
1. Allah yang Maha Pengasih menawarkan rahmat-Nya kepada para hamba-Nya dan tidak meminta yang lebih-lebh dari mereka selain dari iman dan taqwa.
2. Diharamkan bersifat lalai dan wajib ingat dan waspada.
3. Dharamkan bersikap aman darumakar Allah SWT.
4. Bla suatu umat merasa aman-aman saja dari makar Allah SWT, maka hendaklah mereka bersiap-siap menyambut penyesalan dan datangnya suatu azab yang pasti datang.
5. Wajib mengambil pelajaran dari apa yang dialami orang-orang terdahulu, yaiti dengan tidak melakukan factor-faktor yang menyebabkan kebinasaan mereka.
Aysar at-Tafaasiir : Syaikh Abu Bakar al-Jazaairy.

Ibrah/Perenungan

Apabila kita dermati kejadian negeri kita saja, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir ini, seakan ayat-ayat tersebut brbicara kepada kita. Kejadian-kejadian seperti gempa, tanah longsor, banjir dan sebagainya tidak jauh dari waktu-waktu yang disebutkan tersebut. Di Sidoharjo misalnya, lumpur panasa yang terus menyembur tak kunjung reda hingga sekarang, demikian pula gempa dan tanah longsor di berbagai tempat dan sejumlah kejadian lain di persada negeri ini, semuanya terjadi pada saat yang disebutkan ayat-ayat diatas. Membukytikan bahwa semuanya itu hanyalah atas kehendak Allah SWT. Semata. Belum lagi jika kita melihat kejadian-kejadian yang menimpa penduduk luar negeri, seperti di Iran, Bangladesh, Srilanka, Amerika, Kuba dan sebagainya. Juga membuktikan bahwa musibah-musbah itu terjadi tidak lepas dari andil manusia, yaitu pebuatan maksiat kepada Allah SWT dan kerusakan di muka bumi.
Di sisi yang lain, kita menyaksikan kebenaran janji Allah SWT dalam ayat-ayat tersebut untuk menjadikan negeri-negeri yang beriman dan bertaqwa sebagai negeri yang makmur, negeri yang sejahtera, aman dan tentram. Di antara contohnya yang perlu kita renungkan kembali adalah betapa pada masa Rasulullah, para al-khulafa’ ar-Rasyidun dan generasi tabi’in kondisinya sangat aman, damai, dan sejahtera. Tidak terbetik berita dari nukilan ahli sejarah yang dapat dipercaya mengenai musibah-musibah besar seperti yang terjadi di abad kontemporer ini. Jelas sekali ini menunjukkan janji Allah SWT itu pasti benar dan terjadi.
Semoga dengan ini, akan lebih membuka mata hati kita untuk segera dan tidak menunda-nunda lagi bertaubat dan kembali kepada Allah SWT serta berhenti melakukan semua bentuk kemaksiatan.
Wallahu a’lam

Hati Sebening Kaca

       Hati ibarat kaca nan bening, setitik embunpun dapat membuatnya kusam, terlebih debu, kotoran maupun air yang bernoda hitam. Apa jadinya kalau kebeningannya terciprat noda? Tentu ia menjadi penghalang dalam kita berkaca dan tak lagi dapat menampakkan sosokdiri yang sempurna.
Begitupun dengan hati. Untuk pembersihan penyuciannya dibutuhkan suatu proses yang tentunya mesti bersumber dari wahyu ilahi, syariat yang dibawa Nabi SAW. Di antara factor-faktor yang dpat menjaga kesucian adalah :
a. Selalu menjaga niat.
Niat merupakan barometer segala ucapan dan perbuatan seorang muslim. Maka menjaganya dari segala kotoran dan maksiat menjadi kunci utama dalam pembersihannya.
b. Membaca dan mempelajari Al Qur’an.
Kita tahu bahwa Al Qur’an adalh tali Allah yang kuat. Tali ini memperkokoh hubungan hamba dengan Rabnya. Al Qur’anpun menjadi obat penyakit hati bagi hamba yang membaca dan mempelajari.
c. Banyak berdzikir.
Dengan dzikir yang tulus, segala belenggu syahwat akan terputus dan menjadikan ketenangan hati.
d. Mohon ampun dengan memperbanyak istighfar dan memperbanyak amal kebaikan.
Dengan memohon ampun dengan membaca istighfar seorang hamba bakal menuai ampunan minimal dalam 1 hari 100X istighfar. Dengan memperbanyak amal kebaikan bisa menutupi segala dosa-dosa dan noda-noda yang ada di hati.
e. Shalat malam.
Shalat malam merupakan kebiasaan orang-orang shalih dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mensucikan hati. Rasulullah SAW bersabda “ hendaknya kalian melakukan shalat malam. Sesungguhnya shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih, pendekatan diri kepada Allah, pencegah dosa, penghapus kesalahan, dan pengusir penyakit dari tubuh.(Riwayat Ahmad).
f. Menghadiri majelis ilmu dan bergaul dengan orang-orang shalih.
Dengan menghadiri majelis ilmu dapat meminimalisir niat-niat jelek yang timbul. Disamping itu dengan menghadiri majelis ilmu kita juga bisa meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuuk diri kita.dengan bergaul dengan orang-orang shalih segala tingkah laku dan perbuatan kita akan senantiasa terjaga dan terkendali, karena orang-orang shalih akan selalu mengajak kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan apabila kita melakukan kesalahan maka akan selalu di ingatkannya.
g. Mengingat kematian.
Yaitu dengan sering-sering ziarah kekubur.dengan begitu maka akan menjadikan kita untuk selalu menyibukkan diri dengan berbuat baik dan meningkatkan amal ibadah untuk mempersiapkan bekal kita di akhirat kelak.
h. Bersikap zuhud terhadap dunia.
Bukan berarti kita melupakan dunia atau tak butuh lagi dunia tetapi hajat kita kepada akhirat mesti menjadi prioritas utamadaripada dunia yang fana ini.memberi prioritas kapada akhirat berarti salah satu upaya membebaskan diri dari belenngu dunia ini.jangan menjadikan dunia ini tujuan tetapi jadikanlah dunia ini sebagaisarana untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat.
i. Berdo’a
Berdo’a merupakan kunci pamungkas di antara kunci-kunci yang ada dalam upaya pemberdihan diri. Karena doa menjadi senjata muslim dalam menghadapi bujukan setan yang selalu menyeru kapada hal-hal yang maksiat dan penyimpangan. Dengan rujuk dan kembali kepada Allah SWT, InsyaAllah segala rayuan syahwat yang di suguhkan tak lagi mempan.