Jumat, 07 Januari 2011

Wujud keberadaan Allah

Pembuktian Wujud Allah
Walaupun manusia telah mengahayati wujud Allah melalui ciptaan-Nya, pengalaman batin atau fitrah manusia sendiri, namun dia masih juga meginginkan pembuktian secara langsung bertemu muka. Bahkan Nabi Musa as. sekalipun beliau adalah utusan Allah pernah memohon kepada Allah agar dia menampakkan diri kepadanya, seperti dijelaskan al-Qur’an dalam surat al-A’raf/7: 143.
(“ Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".)
Oleh karena itu segala usaha manusia dalam pembuktian wujud Allah itu tetap nisbi dan terbatas, maka pembuktian perlu dicari hanya dari satu-satunya sumber yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Cara pembuktian lain hanya relevan bilamana ditujukan untuk memperkuat pembuktian dalam al-Qur’an dan al-Sunnah al-Qur’an sendiri menyatakan dalam surat al-Mulk/67:10
(Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".)
Dalam rangka mengembangkan keimanan kepada Allah, Ibn Rusyd memakai cara falsafi yang sesuai denga syari’at Islam, yaitu menggunakan dalil nidham ( kerapian suunan alam) yag disebut dalil inayah wal ikhtira (pemeliharaan dan penciptaan) 5 Adapun dalil inayah ialah teori yang mengarahkan mausia agar mampu menghayati wujud Allah melalui penghayatan dan pemahaman manfaat alam untuk manusia.
Firman Allah dalam surat al-Lukman/31: 20.
Dan an-Naba’/78:6-16 (“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”) (“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?, dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?”) Hasil penelitian ilmiah yang mendalam menyatakan bahwa alam ini sesuai dengan keperluan hidup mausia dan makhluk-makhluk lainnya. Persesuaian manfaat ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan, firman Allah dalam suarat Ali Imran/3: 191: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”) Bukti persesuaian wujud alam dengan keperluan kehidupan manusia itu umpamanya: diciptakan air, udara, api, tanah yang semuanya merupakan kehidupan manusia, tanpa direncanakan dan diminta oleh manusia. Hal ini membuktikan adanya kesengajaan yang direncanakan secara sistemik (ihtira’) Kejadian alam semesta yang sistemik6 ini di bahas oleh Ibn Rusyd dalam dalil ikhtira’ yaitu yang mengarahkan manusia agar mampu menghayati wujud Allah melalui penghayatan dan pemahaman keserasian atau keharmonisan aneka ragam alam, seperti yang ditunjukkan al-Qur’an pada surat al-Ghasiyyah/88:17-22. (“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,”) Cara pembuktian lain dapat dikemukakan dalil logika dari ilmu kalam, di antaranya sebagai berikut 7 : “ Tidak ada yag tidak ada, karena tidak ada itu ada, artinya tidak ada itu keadaan yang ada. Pembuat ada itu mesti ada dan mustahil pembuat ada itu tidak ada. Pembuat pertama dari pada yang ada dan tidak ada itu adalah wajibal wujud atau mutlak adanya, yang mesti ada dengan sedirinya”.

Pengertian Iman dan Taqwa

Pengertian Iman 
Dalam hadist di riwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Iimaanu ‘aqdun bil qalbi waiqraarun billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup.
Pengertian Takwa 
Kata takwa (التَّقْوَى) dalam etimologi bahasa Arab berasal dari kata kerja (وَقَى) yang memiliki pengertian menutupi, menjaga, berhati-hati dan berlindung. Oleh karena itu imam Al Ashfahani menyatakan: Takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti, kemudian rasa takut juga dinamakan takwa. Sehingga takwa dalam istilah syar’I adalah menjaga diri dari perbuatan dosa. Takwa adalah amalan hati dan letaknya di kalbu. “Demikianlah (perintah ALLAH). Dan barang siapa mengagungkan syiar – syiar ALLAH maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS 22:32).
Keimanan dan ketakwaan seorang muslim adalah kunci agar mendapatkan ridho dan barokah dari Allah SWT. Iman Islam dalam diri seorang muslim harus dibarengi dengan takwa. Bila seorang muslim percaya dengan keberadaan Allah, maka tentunya ia takut kepada Allah. Itulah yang dinamakan takwa.

Tuhan Allah

Allah sebagai Pencipta semesta alam, Pencipta langit dan bumi, menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan da buah-buahan yang beraneka jenisnya, mengeluarkan yang hidup dan yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an Surat Fathir/35:27 “(Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya”).. Dan surat al-An’am/6:95: ‘(Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?”) Allah adalah Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.
Dialah yang menyisingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, menjadikan matahari dan bulan untuk perhitumgan, menjadikan bintang-bintang untuk jadi petunjuk jalan dalam kegelapan di daratan maupun di lautan.Sebagimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-An’am/6:96. “(Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’). Allah adalah khaliq Pemelihara makhluk-Nya. Allah Maha Pencipta alam semesta dengan isinya beserta hukum-hukumnya.
Dan Allahlah yang menjadikan bintang-bintang sebagai petunjuk bagi manusia sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-An’am/6:97-98: “(Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang- orang yang mengetahui.”) Sesungguhnya Allah adalah pemelihara segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, tidak satupun yang terlepas dari pengawasan-Nya (yang diatur oleh hukum-Nya ). Sungguh luas kekuasaan Allah dan ilmu-Nya, sebagaimana digambarkan dengan jelas dalam surat al-Baqarah ayat 255. Ayat tersebut “(Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”). Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa Allah Pencipta alam semesta dengan isinya beserta hukum-hukumnya ( antara lain natural law) dan Allah juga yang menciptakan ilmu yang merupakan ilmu dasar dan yang kemudian dirumuskan atau dikembangkan oleh ahli ilmu pengetahuan. Tentu saja ilmu Allah bersifat mutlak dan manusia mempunyai keterbatasan untuk mengetahuinya. Keterbatasa ini juga merupaka sebab dari kemungkinan kesalahan formula ilmu yang dirumuskan oleh para ahli bahkan ketidak mampuannya untuk merumuskan formula sebagian ilmu tersebut. Karena itu dalam agama Islam, Konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dikembalikan kepada Wahyu (Revelation) dari Allah dan kepada risalah yang diterima oleh Rasul. Ke-Esaan Tuhan menurut konsep tersebut, bukan saja Esa dalam jumlahnya, melainkan Esa dalam segala-galanya. Esa dalam wujud –Nya, sifatnya dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi Allah dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya dalam surat al-Ikhlas/112: 1-4 (“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".) Demikianlah beberapa sifat Allah dan kekuasaan-Nya yang menunjukkan ke Esaan-Nya. Sesungguhnya sifat-sifat Allah adalah lebih banyak dari itu dan lebih konprehensif, sebagaimana di antaranya ada yang merumuskannya dengan asmaul husna yang jumlahnya 99 .

Tuhan dalam Agama-agama

Tuhan dalam agama Buddha
Dalam ajaran agama Buddha, Sang Buddha bukanlah Tuhan dalam agama Buddha yang bersifat non-teis (yakni, pada umumnya tidak mengajarkan keberadaan Tuhan sang pencipta, atau bergantung kepada Tuhan sang pencipta demi dalam usaha mencapai pencerahan; Sang Buddha adalah pembimbing atau guru yang menunjukkan jalan menuju nirwana).
Pandangan umum tentang Tuhan menjelaskan suatu keberadaan yang tidak hanya memimpin tetapi juga menciptakan alam semesta. Pemikiran dan konsep tentang inilah yang sering diperdebatkan oleh banyak Buddhis dalam perpecahan agama Buddha. Dalam agama Buddha, asal muasal dan penciptaan alam semesta bukan berasal dari Tuhan, melainkan karena hukum sebab dan akibat yang telah disamarkan oleh waktu. Bagaimanapun, beberapa Sutra Mahayana tertentu (seperti Sutra Nirwana dan Sutra Teratai) dan terutama tantra-tantra tertentu seperti Kunjed Gyalpo Tantra memberikan menunjukkan bahwa sikap memandang Buddha yang maha hadir, mempunyai intisari yang membebaskan dan abadi kenyataan dari segala benda, sampai sejauh ini, boleh dibilang sudah mendekati pandangan Tuhan sebagai segalanya.Dalam agama Buddha, tidak ada makhluk sakti yang menjadi pencipta segalanya. Buddha Gautama menyatakan bahwa pemikiran kitalah yang telah menjadikan dunia ini. Sang Buddha menganggap buah pikiran sebagai pencipta. Kita adalah buah pikiran kita sendiri.
Tuhan dalam agama Islam
Dalam konsep Islam, Tuhan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam[1][2].
Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa (tauhid).[3] Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa.[4] Menurut al-Qur'an terdapat 99 Nama Allah (asma'ul husna artinya: "nama-nama yang paling baik") yang mengingatkan setiap sifat-sifat Tuhan yang berbeda.[5][6] Semua nama tersebut mengacu pada Allah, nama Tuhan Maha Tinggi dan Maha Luas.[7] Diantara 99 nama Allah tersebut, yang paling terkenal dan paling sering digunakan adalah "Maha Pengasih" (ar-rahman) dan "Maha Penyayang" (ar-rahim).[5][6]
Penciptaan dan penguasaan alam semesta dideskripsikan sebagai suatu tindakan kemurahhatian yang paling utama untuk semua ciptaan yang memuji keagungan-Nya dan menjadi saksi atas keesan-Nya dan kuasa-Nya. Menurut ajaran Islam, Tuhan muncul dimana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa pun.[8] Menurut al-Qur'an, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS al-An'am[6]:103)[2]
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal: Menurut al-Qur'an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya.”[8]
Islam mengajarkan bahwa Tuhan dalam konsep Islam merupakan Tuhan sama yang disembah oleh kelompok agama Abrahamik lainnya seperti Kristen dan Yahudi (29:46).[9] Namun, hal ini tidak diterima secara universal oleh kalangan non-Muslim.
Tuhan dalam agama Hindu
Tuhan dalam agama Hindu sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sanskerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Tuhan Yang Maha Esa ini disebut dalam beberapa nama, antara lain:
• Brahman: asal muasal dari alam semestea dan segala isinya
• Purushottama atau Maha Purusha
• Iswara (dalam Weda)
• Parama Ciwa (dalam Whraspati tatwa)
• Sanghyang Widi Wasa (dalam lontar Purwabhumi Kemulan)
• Dhata: yang memegang atau menampilkan segala sesuatu
• Abjayoni: yang lahir dari bunga teratai
• Druhina: yang membunuh raksasa
• Viranci: yang menciptakan
• Kamalasana: yang duduk di atas bunga teratai
• Srsta: yang menciptakan
• Prajapati: raja dari semua makhluk/masyarakat
• Vedha: ia yang menciptakan
• Vidhata: yang menjadikan segala sesuatu
• Visvasrt: ia yang menciptakan dunia
• Vidhi: yan menciptakan atau yang menentukan atau yang mengadili.

Tuhan Yang Maha Esa ini apapun namaNya digambarkan sebagai:
- Beliau yang merupakan asal mula. Pencipta dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta
- Wujud kesadaran agung yang merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada
- Raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan makanan
- Sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hiudp
- Maha suci tidak ternoda
- Mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan, maha cemerlang, tiada terucapkan, tiada duanya.
- Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya (swayambhu)
Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa ini, meskipun telah berusaha menggambarkan Tuhan semaksimal mungkin, tetap saja sangat terbatas. Oleh karena itu kitab-kitab Upanisad menyatakan definisi atau pengertian apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaranNya. Sehingga kitab-kitab Upanisad menyatakan tidak ada definsi yang tepat untukNya, Neti-Neti (Na + iti, na + iti), bukan ini, bukan ini.
Tuhan dalam agama Katholik
Agama Katholik adalah agama Kristen yang paling tua. Katholik sendiri berarti orang-orang umum, karena mereka mengaku-aku sebagai induk segala gereja dan penyebar missi satu-satunya di dunia. Disebut pula dengan Gereja Barat atau Geraja Latin, karena mereka mendominasi Eropa Barat, yaitu mulai dari Italia, Belgia, Prancis, Spanyol, Portugal dan lain-lainnya. Disebut juga sebagai Gereja Petrus atau Kerasulan kare na mereka mengaku-aku bahwa yang membangun agama mereka adalah Petrus, murid Nabi ‘Isa yang paling senior.
Agama Katholik meyakini bahwa Roh Qudus tumbuh dari Tuhan Bapa dan Anak secara bersamaan. Mereka juga berkeyakinan bahwa Tuhan Bapa dan Tuhan Anak memiliki kesempurnaan yang sama. Bahkan mereka meyakini bahwa Yesus atau Tuhan Anak ikut bersama-sama dengan Tuhan Bapa mencipta langit dan bumi.
Tuhan dalam agama Kristen
Islam adalah satu-satunya agama di luar Kristen yang menetapkan pernyataan keimanan percaya kepada Yesus (Isa). Tidak ada seorang Muslim yang bisa dikatakan Muslim jika ia tidak percaya kepada Yesus/Isa sebagai nabi dan rasul Allah). Kami meyakini bahwa ia (Yesus) adalah salah satu rasul Allah SWT. Kami percaya bahwa ia dilahirkan secara mukjizat, tanpa adanya intervensi peran laki-laki, dimana banyak orang-orang Kristen pada masa sekarang yang sudah tidak mempercayai mukjizat itu lagi. Kami percaya bahwa ia mampu menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Kami percaya bahwa ia mampu menyembuhkan kebutaan seseorang yang dibawa sejak lahir, dan mampu menyembuhkan penyakit kusta dengan seizin dari Allah SWT. Banyak hal yang sama antara orang-orang Kristen dan orang-orang Muslim, namun begitu, ada hal-hal yang membedakan.
Orang Kristen mengatakan dengan keyakinannya bahwa Yesus Kristus (Isa a.s) adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yesus sendiri mengakui perihal ketuhannya. Kenyataannya, jika Anda baca di dalam Alkitab maka tidak terdapat satupun pernyataan di dalam Alkitab yang ada dimana Yesus mengatakan langsung dari dirinya berupa kalimat “Akulah Tuhan”, atau kalimat “Sembahlah aku”. Saya ulangi, tidak ada satu ayatpun di dalam Alkitab dimana Yesus sendiri ada mengatakan langsung dari dirinya berupa kalimat “Akulah Tuhan”, atau kalimat “Sembahlah aku”.
Sebaliknya, jika Anda baca Alkitab, disebutkan di dalam kitab Injil Yohannes, pasal 14 ayat 28, Yesus berkata “... sebab Bapa lebih besar daripada Aku”. Disebutkan di dalam kitab Injil Yohannes, pasal 10 ayat 29, “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun ... “. Di dalam Injil Matius, pasal 12 ayat 28 disebutkan “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah ... “. Di dalam Injil Lukas, pasal 11 ayat 20, disebutkan, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah ... “, Disebutkan di dalam kitab Injil Yohannes, pasal 5 ayat 30, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku”. Yesus tidak pernah menyatakan perihal ketuhanannya. Sebaliknya, Yesus datang untuk menggenapi hukum yang sudah ada sebelumnya (yakni syariat yang dibawa oleh Musa). Sebagaimana yang dijelaskan did alam Injil Matius pasal 5 ayat 17 hingga 20, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bum ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu, siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Jadi, Yesus berkata jika Anda ingin masuk ke dalam Kerajaan Sorga, maka Anda harus mematuhi setiap ketetapan perintah yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. Anda harus mematuhi setiap perintah yang termuat di dalam Perjanjian Lama termasuk ayat-ayat yang tadi saya kutipkan, yakni bahwa hanya ada satu Tuhan dan Anda dilarang untuk menyembah kepada berhala. Anda juga dilarang untuk membuat gambaran (penampakan/rupa) tentang Dia

Pemikiran tentang Tuhan

Sebelum lebih jauh dibahas mengenai konsep-konsep ketuhanan menurut filsafat. Terlebih dahulu perlu dipahami pengertian filsafat itu sendiri. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Yakni philein dan sophia: philein bermakna cinta dan sophia berarti hikmah 1 atau ilmu pengetahuan. Dengan demikian philosophia mengandung arti cinta pada ilmu pengetahuan.
Secara Etimologi, filsafat dapat berarti pengetahuan tentang hikmah, pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar, mencari kebenaran, mencari dasar-dasar apa yang dibahas. Namun demikian dapat dikatakan bahwa intisari filsafat2 adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kedasar persoalan.
Dalam sejarah filsafat 3, manusia telah berpikir atau berfilsafat tentang Tuhan, yakni sesuatu kekuatan gaib yang ada diluar diri manusia, maka kemudian lahirlah konsep-konsep Tuhan menurut akal pikiran manusia (filsafat).



Berikut ini akan dibahas konsep-konsep ketuhanan menurut filsafat dalam sejarah hidup manusia.
1. Dinamisme
Mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Dalam faham ini ada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat. Benda yang mempunyai kekuatan gaib baik, disenangi dan dipakai dan dimakan agar orang yang memakai atau memakannya senantiasa dipelihara dan dilindungi oleh kekuatan gaib yang terdapat di dalamnya. Benda yang mempunyai kekuatan gaib jahat, ditakuti dan oleh karena itu dijauhi.
Dalam bahasa ilmiah kekuatan gaib itu disebut mana dan dalam bahasa Indonesia tuah atau sakti. Dalam masyarakat kita orang masih menghargai barang-barang yang dianggap bersakti dan bertuah, seperti keris, batu cincin dan lain-lain.
Dalam masyarakat primitif terdapat dukun atau ahli sihir, dan mereka inilah yang dianggap dapat mengontrol dan menguasai mana yang beraneka ragam itu. Mereka dianggap dapat membuat mana pindah dari satu tempat ke tempat lain dan dengan demikian dapat membuat mana mengambil tempat di benda-benda yang telah mereka tentukan, biasanya benda-benda kecil yang mudah diikatkan keanggota badan dan mudah dapat dibawa ke mana-mana. Benda-benda serupa ini disebut fetish.

2. Animisme
Animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, mempunyai roh. Roh dalam masyarakat primitif belum mengambil bentuk roh dalam faham masyarakat yang telah lebih maju. Bagi masyarakat primitif roh masih tersusun dari materi yang halus sekali yang dekat menyerupai uap atau udara. Roh bagi mereka mempunyai rupa, umpamanya berkaki dan bertangan yang panjang-panjang, mempunyai umur dan perlu pada makanan. Mereka mempunyai tingkah laku manusia, umpamanya pergi berburu, menari dan menyanyi. Terkadang roh dapat dilihat, sungguhpun ia tersusun dari materi yang halus sekali.
Tujuan beragama di sini ialah mengadakan hubungan baik, dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka. Membuat mereka marah harus dijauhi. Kemarahan roh-roh itu akan menimbulkan bahaya dan malapetaka. Yang dapat mengontrol roh-roh itu sebagai halnya dalam agama dinamisme ialah juga dukun atau ahli sihir. Dalam masyarakat kita kepercayaan pada roh, sebagai mana halnya dengan kepercayaan pada mana, masih terdapat. Pemberian sesajen yang masih banyak kita jumpai dalam masyarakat kita, selamatan yang masih banyak juga dilakukan, kepercayaan pada “orang halus” dan lain-lain, semua ini adalah peninggalan- peninggalan dari kepercayaan-kepercayaan animisme masyarakat kita dizaman yang silam.

3. Politeisme
Mengandung kepercayaan pada dewa-dewa. Dalam agama ini hal-hal yang menimbulkan perasaan taajjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh roh-roh tapi oleh dewa-dewa. Kalau roh-roh dalam animisme tidak diketahui tugas-tugasnya yang sebenarnya, dewa-dewa dalam politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu.
Demikianlah, ada dewa yang bertugas menyinarkan cahaya dan panas ke permukaan bumi. Dewa ini dalam agama Mesir kuno disebut Ra, dalam agama India kuno Surya dan dalam agama Persia kuno Mithra. Ada pula dewa yang tugasnya menurunkan hujan, yang diberi nama Indera dalam agama India kuno dan Donnar dalam agama Jerman kuno. Selanjutnya ada pula dewa angin yang disebut Wata dalam agama India kuno dan Wotan dalam agama Jerman kuno. Berlainan dengan roh-roh, dewa-dewa diyakini lebih berkuasa.
Oleh karena itu tujuan hidup beragama di sini bukanlah hanya memberi sesajen dan persembahan-persembahan kepada dewa-dewa itu, tetapi juga menyembah dan berdoa pada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang bersangkutan. Tetapi dalam politeisme terdapat faham pertentangan tugas antara dewa-dewa yang banyak itu.
Dalam pada itu, ada kalanya tiga dari dewa-dewa yang banyak dalam politeisme meningkat ke atas dan mendapat perhatian dan pujaan yang lebih besar dari yang lain. Di sini timbullah faham dewa tiga. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Tiga itu mengambil bentuk Brahma, Wisnu, Syiwa, dalam agama Veda Indra, Vithra dan Varuna, dalam agama Mesir kuno Osiris dengan isterinya Isis dan anak mereka Herus dan dalam agama Arab Jahiliah Al- Lata, Al- Uzza dan Manata.
Ada kalanya satu dari dewa-dewa itu meningkat di atas segala dewa lain seperti Zeus dalam agama Yunani kuno, Yupiter dalam agama Romawi dan Ammon dalam agama Mesir kuno. Ini belum berarti pengakuan pada satu Tuhan, tapi baru pada pengakuan dewa terbesar di antara dewa yang banyak. Faham ini belum meningkat pada faham henoteisme atau monoteisme, tetapi masih berada dalam tingkat politeisme. Tetapi kalau dewa yang terbesar itu saja kemudian yang dihormati dan dipuja, sedang dewa-dewa lain ditinggalkan faham demikian telah keluar dari politeisme dan meningkat kepada henoteisme.

4. Henoteisme
Mengakui satu tuhan untuk satu bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai tuhannya sendiri-sendiri. Henoteisme mengandung faham tuhan nasional. Faham yang serupa ini terdapat dalam perkembangan faham keagamaan masyarakat Yahudi. Yahweh pada akhirnya mengalahkan dan menghancurkan semua dewa suku bangsa Yahudi lain, sehingga Yahweh menjadi tuhan nasional bangsa Yahudi. Dalam masyarakat yang sudah maju agama yang dianut bukan lagi
dinamisme,animisme, politeisme atauhenoteisme, tetapi agama monoteisme, agama tauhid.
Dasar ajaran monoteisme ialah Tuhan satu, Tuhan Maha Esa, Pencipta alam semesta.
Dengan demikian perbedaan antara henoteisme dan monoteisme ialah bahwa dalam agama akhir ini Tuhan tidak lagi merupakan Tuhan nasional tetapi Tuhan internasional, Tuhan semua bangsa di dunia ini bahkan Tuhan Alam Semesta.
Tujuan hidup dalam agama monoteisme bukan lagi mencari keselamatan hidup material saja, tetapi juga keselamatan hidup kedua atau hidup spirituil. Dalam istilah agama disebut keselamatan dunia dan keselamatan akhirat. Dalam agama-agama primitive manusia mencoba menyogok dan membujuk kekuasaan supernaturil dngan penyembahan dan saji- sajian supaya mengikuti kemauan manusia, sedang dalam agama monoteisme manusia sebaliknya tunduk kepada kemauan Tuhan.
Tuhan dalam faham monoteisme adalah Maha Suci dan Tuhan menghendaki supaya manusia tetap suci. Manusia akan kembali kepada Tuhan, dan yang dapat kembali ke sisi Tuhan Yang Maha Suci hanyalah orang-orang yang suci. Orang-orang yang kotor tidak akan diterima kembali ke sisi Yang Maha Suci. Orang-orang yang serupa ini akan berada di neraka, jauh dari Tuhan. Orang-orang yang suci akan berada dekat Tuhan dalam surga.

5. Deisme
Paham monoteisme bisa berbentuk deisme atau teisme. Deisme berasal dari kata latin Deus yang berarti Tuhan. Menurut paham ini Tuhan berada jauh diluar alam (transcendent) yaitu tidak berada dalam alam (immanent). Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakannya, ia tidak memperhatikannya lagi. Alam kemudian berjalan dengan peraturan-peraturan atau hukum-hukum ( dalam Islam disebut sunnatullah)yang tidak berubah-ubah.
Dalam paham deisme Tuhan dapat diumpamakan dengan tukang jam yang sangat mahir dan dapat membuat jam dengan sebaik-baiknya, di mana setelah diciptakan, jam tersebut tidak berhajat kepada perbaikan dan penyempurnaan. Jam ini terus berjalan menurut mekanisme yang disusun tukang jam yang mahir itu. Demikian halnya alam dalam paham deisme, setelah diciptakan alam tidak berhajat lagi kepada Tuhan dan berjalan menurut mekanisme yang telah diatur oleh Tuhan.


Paham deisme mulai muncul pada abad 17 dan berasal dari filsafat Newton ( 1642-1727) yang mengatakan bahwa Tuhan hanya pencipta alam dan jika tidak terjadi kerusakan, baru alam memerlukan Tuhan yang memperbaiki kerusakan yang timbul itu. Dengan demikian majunya ilmu pengetahuan, semakin jelas bahwa alam ini beredar menurut peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang universal dan tidak berubah. Dengan demikian orang melihat bahwa perlunya Tuhan bagi alam menjadi kecil karena alam dapat beredar dengan sendirinya. Timbullah paham bahwa Tuhan menciptakan alam dan kemudian meninggalkan alam beroperasi menurut hukum-hukum alam yang telah ditentukan

6. Pantaisme
Pantaisme merupakan suatu paham yang menyatakan bahwa semua yang ada di alam ini adalah Tuhan. Pan berarti seluruh, teism artinya Tuhan, maka panteism mengandug arti seluruhnya Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya adalah Tuhan. Benda-benda yang dapat ditangkap dengan pancaindra adalah bagian dari Tuhan. Lampu ini adalah bahagian dari Tuhan, demikan pula kursi, meja ruang dan gedung adalah bahagian dari Tuhan.
Berbeda dengan deisme, paham pantaisme berpendapat bahwa Tuhan dekat sekali dengan
alam. Tuhan adalah immanent, yakni berada di dalam alam ini, bukan diluar alam sebagaimana yang diyakini dalam deisme. Menurut paham pantaisme. Tuhan atau yang Maha Besar itu hanya satu da tidak berubah. Alam pancaindera yang dilihat berubah ini adalah illusi atau khayal belaka karena alam pancaindra itu bukanlah hakikat, melainkan maya atau illusi.

7. Teisme
Paham teisme hampir sama dengan deisme, yang berpendapat bahwa Tuhan adalah transcendent, yaitu berada diluar alam. Tetapi juga memiliki kesamaan dengan pantaisme, yakni walaupun Tuhan berada di luar alam, namun ia dekat dengan alam. Dalam hal kebutuhan terhadap Tuhan, teisme berbeda dengan deisme, paham teisme berpendapat bahwa walaupun alam telah diciptakan Tuhan dengan sempurna, namun alam teta berhajat pada Tuhan. Tuhan adalah sebab bagi segala yang ada di alam ini. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada dan yang terjadi dalam alam ini.
Dalam paham teisme kosmos ini tidak bisa berwujud dan berdiri tanpa Tuhan walaupun sehari. Tuhanlah yang terus menerus secara langsung mengatur alam ini. Dialah yang menggerakkannya. Alam ini tidak berjalan menurut hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah melainkan berjalan menurut kehendak mutlak Tuhan. Oleh karena itu, jikalau dalam paham deisme, mu’jizat tidak berlaku, maka teisme mengaku adanya mu’jizat Tuhan dan do’a sangat mendapat tempat sebagai permohonan kepada Tuhan.

8. Naturalisme
Naturalisme merupakan dampak lanjutan dari paham deisme, yang menyatakan bahwa alam ini setelah diciptakan Tuhan, tidak berhajat lagi kepada Tuhan, karena Tuhan telah menjadikannya berjalan menurut peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah. Menurut naturalisme, alam ini berdiri sendiri, serba sempurna, berjalan dan beroperasi menurut sifat-sifat yang terdapat dalam dirinya sendiri, menurut tabiatnya, yakni menurut hukum sebab akibat. Alam ini tidak berasal dari dan bergantung pada kekuatan gaib atau supranatural.
Paham naturalisme ini muncul setelah ilmu pengetahuan tentang alam semakin maju, apalagi para ilmuan yang umumnya tidak memiliki dasar keimanan melihat bahwa alam ini berevolusi dan bergerak menurut peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah. Bagi mereka, di atas hukum-hukum alam ini, tidak ada lagi sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang supreme. Seorang ilmuan yang naturalist di abad ke 19 mengatakan bahwa ia telah menyelidiki seluruh langit dengan teleskopnya, tetapi tidak menemui Tuhan.


Demikianlah konsep-konsep ketuhanan menurut filsafat dalam sejarah pemikiran manusia, yang dalam perjalanannya terjadi perkembangan dalam pemahaman mengenai konsep Tuhan, mulai dari dinamisme, animisme, politeisme sampai pada monoteisme. Pada tahap yang terakhir ini manusia melalui pemikirannya telah sampai pada sebuah pengakuan bahwa lam ini diciptakan oleh Tuhan yang satu, yang patut disembah dan Tuhan bagi seluruh alam. Para era modern dari perkembangan alam fikiran manusia (filsafat), konsep tentang Tuhan memang telah diselewengkan oleh para ilmuan yang tidak mengetahui Tuhan ( naturalist dan ateist).

Hakekat Tuhan

Perkataan ilah yang selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam al-Qur’an dipakai untuk menyatakan objek yang dibesarkan, misalnya dalam surat al-Furqan 43.
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya ?
Dalam surat Qashas ayat 38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri. Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar hambaku, aku tidak mengatahui Tuhan bagimu selain aku’.
Contoh diatas menunjukan bahwa perkataan ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipuja). Perkataan ilah dalam al-Quran juga dalam bentuk tunggal (mufrad:ilaahun), ganda (mutsana:ilaahain), dan (jama’: aalihatun). Bertuhan nol tidak mungkin. Untuk dapat mengerti definisi Tuhan atau ilah yang tepat, berdasarkan logika al-Qur’an adalah sebagai berikut:
- Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehnya.
- Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.
- Dalam ajaran Islam diajarkan lslam diajarkan kalimat “Laa illaha illaa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian diikuti penegasa “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya hanya satu Tuhan yang bernama Allah.

Pokok Ajaran Islam

Kerangka dasar ajaran Islam yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw. bersifat multidimensional, universal, abadi dan fithri. Dikatakan multi dimensional karena ajarannya mencakup dimensi-dimensi yang menyangkut hubungan manusia dengan khaliqnya (hablu minallah) dan hubungan manusia dengan dirinya, dengan sesamanya, maupun dengan makhluk lainnya (hablu minannas) (QS. ali-Imran/3:112). Ajaran Islam ditujukan bagi kepentingan pemeliharaan tatanan kehidupan manusia dan alam semesta secara menyeluruh (universal), yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Dinilai sebagai ajaran yang abadi, karena dalam agama Islam terancang konsep ajaran yang mencakup penataan kehidupan di dunia yang sejahtera dan kehidupan di akhirat (selepas kehidupan dunia) yang bahagia. Konsep ajarannya dikatakan fithri, karena sesuai dengan fithrah manusia yang terancang secara serasi bagi kepentingan pemeliharaan, peningkatan dan pengembangan kebutuhan fithrah manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Pada sisi inilah keutamaan dan kelebihan risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini ditunjang oleh kerangka dasar atau pokok-pokok ajaran Islam, yaitu:
• Aspek keyakinan yang disebut dengan aqidah, yaitu aspek credial atau keimanan terhadap Allah dan semua yang difirmankan-Nya dan disabdakan oleh rasul-Nya untuk diyakini. Aqidah Islam ini telah dirumuskan dalam bentuk rukun iman. Penafsiran terhadap aqidah melahirkan literatur keislaman yang dikenal dengan istilah ilmu kalam atau teologi Islam dengan berbagai macam aliran pemikiran.
• Aspek norma atau hukum yang disebut syari’ah, yaitu aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia dan alam semesta. Penafsiran terhadap syariah Islam melahirkan literature keislaman yang disebut dengan fikhi Islam dengan berbagai macam mazhab.
• Aspek perilaku yang disebut dengan akhlaq atau ihsan, yaitu sikap-sikap atau perilaku baik yang nampak maupun tidak nampak dari pelaksanaan aqidah dan syari’ah. Penafsiran terhadap akhlak melahirkan literature keislaman yang disebut dengan imu tasawauf dengan berbagai macam aliran (tarekat).
Ketiga aspek tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan dipisahkan satu dengan lainnya tetapi menyatu membentuk kepribadian yang utuh pada diri setiap manusia muslim. Aqidah digambarkan sebagai akar yang menunjang kokoh dan tegaknya batang di atas muka bumi, syari’ah diumpamakan sebagai batang yang berdiri kokoh diatas akar yang menancap ke bumi, sedangkan akhlaq dimisalkan dengan buah yang dihasilkan dari proses yang berlangsung pada akar dan batang. Keutuhan dan kesatuan ketiga aspek inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada ummat Islam, ketika mereka mengikrarkan dirinya untuk memeluk agama Islam (QS. al-Baqarah/2:208).
Aqidah (keimanan) yang benar, akan melahirkan sikap kepatuhan pada ajaran dan norma-norma yang telah digariskan dalam hukum (syari’ah), dan pelaksanaan norma dan hukum tersebut yang didasari oleh aqidah yang benar, akan melahirkan perilaku zhahiriyah dan bathiniyah yang sesuai dengan kaedah dan norma moralitas (akhlak).