Jumat, 07 Januari 2011

Pemikiran tentang Tuhan

Sebelum lebih jauh dibahas mengenai konsep-konsep ketuhanan menurut filsafat. Terlebih dahulu perlu dipahami pengertian filsafat itu sendiri. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Yakni philein dan sophia: philein bermakna cinta dan sophia berarti hikmah 1 atau ilmu pengetahuan. Dengan demikian philosophia mengandung arti cinta pada ilmu pengetahuan.
Secara Etimologi, filsafat dapat berarti pengetahuan tentang hikmah, pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar, mencari kebenaran, mencari dasar-dasar apa yang dibahas. Namun demikian dapat dikatakan bahwa intisari filsafat2 adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kedasar persoalan.
Dalam sejarah filsafat 3, manusia telah berpikir atau berfilsafat tentang Tuhan, yakni sesuatu kekuatan gaib yang ada diluar diri manusia, maka kemudian lahirlah konsep-konsep Tuhan menurut akal pikiran manusia (filsafat).



Berikut ini akan dibahas konsep-konsep ketuhanan menurut filsafat dalam sejarah hidup manusia.
1. Dinamisme
Mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Dalam faham ini ada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat. Benda yang mempunyai kekuatan gaib baik, disenangi dan dipakai dan dimakan agar orang yang memakai atau memakannya senantiasa dipelihara dan dilindungi oleh kekuatan gaib yang terdapat di dalamnya. Benda yang mempunyai kekuatan gaib jahat, ditakuti dan oleh karena itu dijauhi.
Dalam bahasa ilmiah kekuatan gaib itu disebut mana dan dalam bahasa Indonesia tuah atau sakti. Dalam masyarakat kita orang masih menghargai barang-barang yang dianggap bersakti dan bertuah, seperti keris, batu cincin dan lain-lain.
Dalam masyarakat primitif terdapat dukun atau ahli sihir, dan mereka inilah yang dianggap dapat mengontrol dan menguasai mana yang beraneka ragam itu. Mereka dianggap dapat membuat mana pindah dari satu tempat ke tempat lain dan dengan demikian dapat membuat mana mengambil tempat di benda-benda yang telah mereka tentukan, biasanya benda-benda kecil yang mudah diikatkan keanggota badan dan mudah dapat dibawa ke mana-mana. Benda-benda serupa ini disebut fetish.

2. Animisme
Animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, mempunyai roh. Roh dalam masyarakat primitif belum mengambil bentuk roh dalam faham masyarakat yang telah lebih maju. Bagi masyarakat primitif roh masih tersusun dari materi yang halus sekali yang dekat menyerupai uap atau udara. Roh bagi mereka mempunyai rupa, umpamanya berkaki dan bertangan yang panjang-panjang, mempunyai umur dan perlu pada makanan. Mereka mempunyai tingkah laku manusia, umpamanya pergi berburu, menari dan menyanyi. Terkadang roh dapat dilihat, sungguhpun ia tersusun dari materi yang halus sekali.
Tujuan beragama di sini ialah mengadakan hubungan baik, dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka. Membuat mereka marah harus dijauhi. Kemarahan roh-roh itu akan menimbulkan bahaya dan malapetaka. Yang dapat mengontrol roh-roh itu sebagai halnya dalam agama dinamisme ialah juga dukun atau ahli sihir. Dalam masyarakat kita kepercayaan pada roh, sebagai mana halnya dengan kepercayaan pada mana, masih terdapat. Pemberian sesajen yang masih banyak kita jumpai dalam masyarakat kita, selamatan yang masih banyak juga dilakukan, kepercayaan pada “orang halus” dan lain-lain, semua ini adalah peninggalan- peninggalan dari kepercayaan-kepercayaan animisme masyarakat kita dizaman yang silam.

3. Politeisme
Mengandung kepercayaan pada dewa-dewa. Dalam agama ini hal-hal yang menimbulkan perasaan taajjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh roh-roh tapi oleh dewa-dewa. Kalau roh-roh dalam animisme tidak diketahui tugas-tugasnya yang sebenarnya, dewa-dewa dalam politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu.
Demikianlah, ada dewa yang bertugas menyinarkan cahaya dan panas ke permukaan bumi. Dewa ini dalam agama Mesir kuno disebut Ra, dalam agama India kuno Surya dan dalam agama Persia kuno Mithra. Ada pula dewa yang tugasnya menurunkan hujan, yang diberi nama Indera dalam agama India kuno dan Donnar dalam agama Jerman kuno. Selanjutnya ada pula dewa angin yang disebut Wata dalam agama India kuno dan Wotan dalam agama Jerman kuno. Berlainan dengan roh-roh, dewa-dewa diyakini lebih berkuasa.
Oleh karena itu tujuan hidup beragama di sini bukanlah hanya memberi sesajen dan persembahan-persembahan kepada dewa-dewa itu, tetapi juga menyembah dan berdoa pada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang bersangkutan. Tetapi dalam politeisme terdapat faham pertentangan tugas antara dewa-dewa yang banyak itu.
Dalam pada itu, ada kalanya tiga dari dewa-dewa yang banyak dalam politeisme meningkat ke atas dan mendapat perhatian dan pujaan yang lebih besar dari yang lain. Di sini timbullah faham dewa tiga. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Tiga itu mengambil bentuk Brahma, Wisnu, Syiwa, dalam agama Veda Indra, Vithra dan Varuna, dalam agama Mesir kuno Osiris dengan isterinya Isis dan anak mereka Herus dan dalam agama Arab Jahiliah Al- Lata, Al- Uzza dan Manata.
Ada kalanya satu dari dewa-dewa itu meningkat di atas segala dewa lain seperti Zeus dalam agama Yunani kuno, Yupiter dalam agama Romawi dan Ammon dalam agama Mesir kuno. Ini belum berarti pengakuan pada satu Tuhan, tapi baru pada pengakuan dewa terbesar di antara dewa yang banyak. Faham ini belum meningkat pada faham henoteisme atau monoteisme, tetapi masih berada dalam tingkat politeisme. Tetapi kalau dewa yang terbesar itu saja kemudian yang dihormati dan dipuja, sedang dewa-dewa lain ditinggalkan faham demikian telah keluar dari politeisme dan meningkat kepada henoteisme.

4. Henoteisme
Mengakui satu tuhan untuk satu bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai tuhannya sendiri-sendiri. Henoteisme mengandung faham tuhan nasional. Faham yang serupa ini terdapat dalam perkembangan faham keagamaan masyarakat Yahudi. Yahweh pada akhirnya mengalahkan dan menghancurkan semua dewa suku bangsa Yahudi lain, sehingga Yahweh menjadi tuhan nasional bangsa Yahudi. Dalam masyarakat yang sudah maju agama yang dianut bukan lagi
dinamisme,animisme, politeisme atauhenoteisme, tetapi agama monoteisme, agama tauhid.
Dasar ajaran monoteisme ialah Tuhan satu, Tuhan Maha Esa, Pencipta alam semesta.
Dengan demikian perbedaan antara henoteisme dan monoteisme ialah bahwa dalam agama akhir ini Tuhan tidak lagi merupakan Tuhan nasional tetapi Tuhan internasional, Tuhan semua bangsa di dunia ini bahkan Tuhan Alam Semesta.
Tujuan hidup dalam agama monoteisme bukan lagi mencari keselamatan hidup material saja, tetapi juga keselamatan hidup kedua atau hidup spirituil. Dalam istilah agama disebut keselamatan dunia dan keselamatan akhirat. Dalam agama-agama primitive manusia mencoba menyogok dan membujuk kekuasaan supernaturil dngan penyembahan dan saji- sajian supaya mengikuti kemauan manusia, sedang dalam agama monoteisme manusia sebaliknya tunduk kepada kemauan Tuhan.
Tuhan dalam faham monoteisme adalah Maha Suci dan Tuhan menghendaki supaya manusia tetap suci. Manusia akan kembali kepada Tuhan, dan yang dapat kembali ke sisi Tuhan Yang Maha Suci hanyalah orang-orang yang suci. Orang-orang yang kotor tidak akan diterima kembali ke sisi Yang Maha Suci. Orang-orang yang serupa ini akan berada di neraka, jauh dari Tuhan. Orang-orang yang suci akan berada dekat Tuhan dalam surga.

5. Deisme
Paham monoteisme bisa berbentuk deisme atau teisme. Deisme berasal dari kata latin Deus yang berarti Tuhan. Menurut paham ini Tuhan berada jauh diluar alam (transcendent) yaitu tidak berada dalam alam (immanent). Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakannya, ia tidak memperhatikannya lagi. Alam kemudian berjalan dengan peraturan-peraturan atau hukum-hukum ( dalam Islam disebut sunnatullah)yang tidak berubah-ubah.
Dalam paham deisme Tuhan dapat diumpamakan dengan tukang jam yang sangat mahir dan dapat membuat jam dengan sebaik-baiknya, di mana setelah diciptakan, jam tersebut tidak berhajat kepada perbaikan dan penyempurnaan. Jam ini terus berjalan menurut mekanisme yang disusun tukang jam yang mahir itu. Demikian halnya alam dalam paham deisme, setelah diciptakan alam tidak berhajat lagi kepada Tuhan dan berjalan menurut mekanisme yang telah diatur oleh Tuhan.


Paham deisme mulai muncul pada abad 17 dan berasal dari filsafat Newton ( 1642-1727) yang mengatakan bahwa Tuhan hanya pencipta alam dan jika tidak terjadi kerusakan, baru alam memerlukan Tuhan yang memperbaiki kerusakan yang timbul itu. Dengan demikian majunya ilmu pengetahuan, semakin jelas bahwa alam ini beredar menurut peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang universal dan tidak berubah. Dengan demikian orang melihat bahwa perlunya Tuhan bagi alam menjadi kecil karena alam dapat beredar dengan sendirinya. Timbullah paham bahwa Tuhan menciptakan alam dan kemudian meninggalkan alam beroperasi menurut hukum-hukum alam yang telah ditentukan

6. Pantaisme
Pantaisme merupakan suatu paham yang menyatakan bahwa semua yang ada di alam ini adalah Tuhan. Pan berarti seluruh, teism artinya Tuhan, maka panteism mengandug arti seluruhnya Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya adalah Tuhan. Benda-benda yang dapat ditangkap dengan pancaindra adalah bagian dari Tuhan. Lampu ini adalah bahagian dari Tuhan, demikan pula kursi, meja ruang dan gedung adalah bahagian dari Tuhan.
Berbeda dengan deisme, paham pantaisme berpendapat bahwa Tuhan dekat sekali dengan
alam. Tuhan adalah immanent, yakni berada di dalam alam ini, bukan diluar alam sebagaimana yang diyakini dalam deisme. Menurut paham pantaisme. Tuhan atau yang Maha Besar itu hanya satu da tidak berubah. Alam pancaindera yang dilihat berubah ini adalah illusi atau khayal belaka karena alam pancaindra itu bukanlah hakikat, melainkan maya atau illusi.

7. Teisme
Paham teisme hampir sama dengan deisme, yang berpendapat bahwa Tuhan adalah transcendent, yaitu berada diluar alam. Tetapi juga memiliki kesamaan dengan pantaisme, yakni walaupun Tuhan berada di luar alam, namun ia dekat dengan alam. Dalam hal kebutuhan terhadap Tuhan, teisme berbeda dengan deisme, paham teisme berpendapat bahwa walaupun alam telah diciptakan Tuhan dengan sempurna, namun alam teta berhajat pada Tuhan. Tuhan adalah sebab bagi segala yang ada di alam ini. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada dan yang terjadi dalam alam ini.
Dalam paham teisme kosmos ini tidak bisa berwujud dan berdiri tanpa Tuhan walaupun sehari. Tuhanlah yang terus menerus secara langsung mengatur alam ini. Dialah yang menggerakkannya. Alam ini tidak berjalan menurut hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah melainkan berjalan menurut kehendak mutlak Tuhan. Oleh karena itu, jikalau dalam paham deisme, mu’jizat tidak berlaku, maka teisme mengaku adanya mu’jizat Tuhan dan do’a sangat mendapat tempat sebagai permohonan kepada Tuhan.

8. Naturalisme
Naturalisme merupakan dampak lanjutan dari paham deisme, yang menyatakan bahwa alam ini setelah diciptakan Tuhan, tidak berhajat lagi kepada Tuhan, karena Tuhan telah menjadikannya berjalan menurut peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah. Menurut naturalisme, alam ini berdiri sendiri, serba sempurna, berjalan dan beroperasi menurut sifat-sifat yang terdapat dalam dirinya sendiri, menurut tabiatnya, yakni menurut hukum sebab akibat. Alam ini tidak berasal dari dan bergantung pada kekuatan gaib atau supranatural.
Paham naturalisme ini muncul setelah ilmu pengetahuan tentang alam semakin maju, apalagi para ilmuan yang umumnya tidak memiliki dasar keimanan melihat bahwa alam ini berevolusi dan bergerak menurut peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang tetap dan tidak berubah. Bagi mereka, di atas hukum-hukum alam ini, tidak ada lagi sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang supreme. Seorang ilmuan yang naturalist di abad ke 19 mengatakan bahwa ia telah menyelidiki seluruh langit dengan teleskopnya, tetapi tidak menemui Tuhan.


Demikianlah konsep-konsep ketuhanan menurut filsafat dalam sejarah pemikiran manusia, yang dalam perjalanannya terjadi perkembangan dalam pemahaman mengenai konsep Tuhan, mulai dari dinamisme, animisme, politeisme sampai pada monoteisme. Pada tahap yang terakhir ini manusia melalui pemikirannya telah sampai pada sebuah pengakuan bahwa lam ini diciptakan oleh Tuhan yang satu, yang patut disembah dan Tuhan bagi seluruh alam. Para era modern dari perkembangan alam fikiran manusia (filsafat), konsep tentang Tuhan memang telah diselewengkan oleh para ilmuan yang tidak mengetahui Tuhan ( naturalist dan ateist).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar